Usaha Taman Rekreasi 2025 Melemah, Pelaku Industri Diminta Beradaptasi Hadapi Tekanan Ekonomi

KLIKNUSAE.com  — Usaha taman rekreasi sepanjang 2025 menunjukkan dinamika yang berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.

Jika pada 2024 sektor ini relatif berada dalam fase pemulihan dan konsolidasi setelah beberapa tahun terdampak pandemi. Maka pada 2025 justru muncul tanda-tanda pelemahan yang cukup terasa.

Pada 2024, kunjungan wisatawan domestik mulai meningkat, terutama pada periode libur panjang dan musim liburan sekolah.

Saat itu, banyak pengelola taman rekreasi memusatkan perhatian pada pemulihan operasional, perbaikan fasilitas. Serta penyesuaian harga tiket agar tetap terjangkau bagi keluarga.

Momentum kebangkitan tersebut sempat memberikan harapan bahwa sektor rekreasi keluarga akan kembali stabil setelah terpukul pandemi. Namun situasi berubah ketika memasuki 2025.

Salah satu faktor yang mempengaruhi sektor pariwisata adalah lahirnya Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja APBN dan APBD.

Kebijakan ini mendorong penghematan belanja pemerintah di berbagai sektor. Termasuk kegiatan yang berkaitan dengan perjalanan dan aktivitas rekreasi.

Belum selesai para pelaku industri pariwisata menghadapi dampak kebijakan tersebut, situasi semakin diperberat oleh gejolak geopolitik global yang memicu kenaikan harga energi serta biaya transportasi.

Langkah Strategis

Menyikapi kondisi tersebut, kliknusae.com Jumat 13 Maret 2026 mencoba menghubungi Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI).

Dalam kesempatan tersebut Sekretaris Jenderal DPP PUTRI, Heni Smith, menyerukan langkah-langkah strategis menghadapi situasi yang sedang tidak baik-baik saja.

Hal ini agar pengelola taman rekreasi dapat bertahan menghadapi situasi yang tidak menentu.

Menurut Heni, penguatan pasar wisatawan domestik menjadi kunci utama.

Di tengah melonjaknya harga tiket pesawat internasional akibat gangguan rute penerbangan. Serta kenaikan harga avtur global, pasar lokal dinilai menjadi penyelamat sektor rekreasi.

“Pengelola perlu lebih fokus pada wisatawan regional yang tidak bergantung pada transportasi udara," katanya.

"Promosi berbasis KTP daerah sekitar atau paket keluarga dengan harga lebih kompetitif dapat menjadi cara menjaga keterjangkauan daya beli masyarakat,” sambungnya.

Selain itu, PUTRI juga mendorong pengelola untuk melakukan efisiensi operasional berbasis teknologi.

Gejolak geopolitik global dinilai berdampak langsung pada kenaikan biaya energi dan logistik.

Langkah yang bisa dilakukan antara lain mengadopsi energi ramah lingkungan seperti panel surya. Atau  sistem manajemen energi pintar guna menekan biaya listrik jangka panjang.

Digitalisasi layanan juga menjadi bagian dari strategi efisiensi. Misalnya melalui sistem pembayaran non-tunai serta manajemen antrean digital yang sekaligus meningkatkan kenyamanan pengunjung.

Di sisi lain, tren pariwisata juga mengalami pergeseran. Berdasarkan proyeksi Indonesia Tourism Outlook 2025/2026, wisatawan kini lebih mencari pengalaman yang bermakna dibanding sekadar wahana fisik.

Perkuat Narasi Wisata

Karena itu, pengelola taman rekreasi didorong memperkuat narasi pengalaman wisata. Seperti unsur edukasi, budaya, hingga konsep keberlanjutan atau ekowisata.

Selain itu, kunjungan juga dapat dipacu melalui penyelenggaraan acara tematik berskala kecil namun rutin guna mendorong kunjungan berulang.

PUTRI juga menekankan pentingnya mitigasi krisis dan penguatan aspek keamanan destinasi.

Sentimen keamanan wisata menjadi semakin sensitif di tengah dinamika global. Pengelola diminta memastikan standar kebersihan, kesehatan, dan keamanan tetap berada pada level tertinggi.

Sementara itu, komunikasi yang transparan melalui media sosial juga dinilai penting untuk memberikan informasi terkini kepada pengunjung.

“Kunci menghadapi tahun 2026 bukan sekadar bertahan, melainkan beradaptasi dengan lincah. Kita harus mampu mengubah tantangan biaya tinggi menjadi keunggulan layanan yang lebih personal dan berkualitas bagi wisatawan nusantara,” kata Heni.

Pandangan serupa disampaikan Ketua DPD PUTRI Jawa Barat, Taufik Hidayat Udjo.

Ia menilai provinsi yang dikenal memiliki banyak destinasi wisata tersebut kini berada dalam situasi yang tidak mudah.

Kenaikan harga energi

Menurutnya, ketika pelaku usaha taman rekreasi masih berupaya pulih dari dampak pandemi, mereka kembali dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi global yang berpotensi menekan sektor pariwisata.

Kenaikan harga energi dan bahan bakar diperkirakan akan mendorong meningkatnya biaya perjalanan wisata.

Kondisi ini membuat masyarakat cenderung berpikir lebih panjang sebelum memutuskan untuk berlibur.

Padahal sektor pariwisata merupakan salah satu penggerak ekonomi daerah. Banyak pelaku usaha mikro, pekerja, hingga masyarakat di sekitar destinasi. Mereka menggantungkan penghidupannya pada aktivitas wisata.

Karena itu, pelaku industri berharap pemerintah dapat memberikan dukungan nyata untuk menjaga keberlangsungan sektor pariwisata.

Dukungan tersebut antara lain berupa kemudahan akses pembiayaan, keringanan pajak, stimulus ekonomi. Serta kebijakan lain yang membantu pelaku usaha wisata bertahan.

Di sisi lain, para pelaku usaha juga dituntut melakukan adaptasi. Penyesuaian harga produk wisata agar lebih terjangkau, peningkatan kolaborasi dengan pelaku UMKM lokal. Serta inovasi dan efisiensi dalam pengelolaan destinasi menjadi langkah yang dinilai penting.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat, PUTRI optimistis sektor pariwisata Indonesia masih mampu melewati berbagai tantangan.'

Termasuk berusaha untuk  tetap menjadi salah satu pilar penting dalam pergerakan ekonomi nasional. ***

Share this Post:

Berita Terkait

Berita Lainnya

E-Magazine Nusae