Di Acara Safari PHRI Ustadz Ambya Sebut Ramadan Dimuliakan Karena Al-Qur’an, Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Dahaga

KLIKNUSAE.com — Ramadan kerap dimaknai sebatas kewajiban menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga matahari terbenam.

Padahal, esensi utama bulan suci tersebut justru terletak pada peristiwa turunnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat manusia.

Hal itu disampaikan Ustadz Ambya Abu Farhin saat menyampaikan tausyiah dalam acara Safari Ramadan PHRI Jawa Barat ke-34 di Grand Asrilia Hotel, Kota Bandung, Senin, 2 Maret 2026.

Menurut Ambya, ketika mendengar kata Ramadan, sebagian besar orang langsung mengaitkannya dengan ibadah puasa.

Namun, kemuliaan Ramadan sesungguhnya bukan semata karena kewajiban tersebut, melainkan karena turunnya Al-Qur’an.

“Pada umumnya ketika mendengar Ramadan yang terlintas adalah puasa, menahan makan dan minum hingga matahari terbenam. Padahal yang ada di dalam Ramadan itu sesungguhnya adalah kehadiran Al-Qur’an. Inilah kemuliaannya," ujar Ambya.

Ia menjelaskan, terdapat tiga kemuliaan besar yang hadir bersamaan pada bulan Ramadan. Pertama, Malaikat Jibril sebagai malaikat paling mulia. Kedua, Nabi Muhammad SAW sebagai nabi paling mulia di antara para nabi. Ketiga, Ramadan sebagai bulan paling mulia dalam satu tahun.

“Maka di bulan suci ini  menjadi kesempatan kita untuk memperoleh ridho Allah SWT, dengan meningkatkan ketakwaan," tandasnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa kemuliaan Ramadan mencapai puncaknya pada sepuluh malam terakhir.

Lailatul Qadar

Pada fase tersebut terdapat malam Lailatul Qadar yang menjanjikan pahala ibadah berlipat ganda dibandingkan hari-hari biasa.

Ambya juga menjelaskan alasan Malaikat Jibril disebut sebagai malaikat paling mulia, yakni karena perannya menyampaikan wahyu Al-Qur’an langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

“Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memanfaatkan bulan penuh keberkahan ini untuk muhasabah diri sekaligus meminta ampunan kepada Allah SWT,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua BPD PHRI Jawa Barat Dodi Ahmad Sofiandi mengatakan kegiatan Safari Ramadan menjadi bukti konsistensi organisasi dalam menjaga tradisi silaturahmi dan kebersamaan.

“Dari tahun 1992 sampai 2026 atau sudah 34 tahun berjalan, sampai hari ini acara serupa tetap dilaksanakan. Ini menunjukkan komitmen dan konsistensi pengurus serta anggota PHRI,” ujarnya.

Pemilik Grand Asrilia Hotel, H. Asril DAS, menyampaikan apresiasi kepada seluruh tamu undangan yang hadir.

Ruang Silahturahmi

Ia menilai kegiatan Safari Ramadan penting untuk terus dirawat sebagai ruang mempererat silaturahmi.

Dalam kesempatan tersebut, Asril juga menceritakan perjalanan panjang pembangunan hotel yang kini berdiri di Jalan Pelajar Pejuang 45 Nomor 123.

Ia mengaku sempat menghadapi berbagai tantangan, termasuk penolakan pendanaan pada tahap awal.

“Pertama saya mengajukan pendanaan dari Bank Pembangunan Jawa Barat tidak disetujui. Saya tidak patah semangat. Kemudian mengajukan ke Bank Nagari Bandung dan akhirnya disetujui hingga hotel ini bisa berdiri,” ungkapnya.

Ia pun memohon doa agar operasional hotel terus berjalan lancar dan tingkat okupansi semakin meningkat, yang langsung diamini para undangan.

Hadir alam acara Safari Ramadan yang dilanjutkan tarawih bersama itu, Ketua GIPI Jawa Barat Herman Muchtar, para senior Kadin Jawa Barat seperti Agung Suryamal Sutisna, Cucu Sutara, Herie Hermanie Soewarma dan undangan lainnya.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan ini, Asril turut memberikan santunan kepada anak yatim.

Tradisi tahunan yang secara konsisten dilakukan dalam setiap penyelenggaraan Safari Ramadan tersebut. ***

 

Share this Post:

Berita Terkait

Berita Lainnya

E-Magazine Nusae