ASITA Jabar Dorong Penguatan Wisata Domestik di Tengah Perang Iran-Israel dan Amerika
KLIKNUSAE.com - Ketegangan geopolitik yang memanas antara Iran-Israel dan Amerika Serikat mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas sektor pariwisata global.
Di tengah situasi tersebut, pelaku industri pariwisata di daerah diminta untuk segera menyiapkan langkah adaptif guna menjaga pergerakan wisatawan tetap stabil.
Ketua DPD ASITA Jawa Barat, Daniel Guna Nugraha, menilai konflik yang melibatkan negara-negara besar di Timur Tengah berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia.
Dimana kondisi ini akhirnya berdampak pada biaya transportasi udara dan konektivitas perjalanan wisata.
Menurut Daniel, kondisi ini harus direspons dengan strategi yang lebih realistis dan berbasis kekuatan pasar domestik.
Salah satu langkah yang didorong adalah optimalisasi wisatawan nusantara.
Ia menegaskan bahwa pasar domestik harus menjadi penopang utama ketika mobilitas wisatawan mancanegara terhambat oleh faktor geopolitik dan lonjakan biaya perjalanan.
“Kita harus memperkuat pasar domestik. Ketika akses internasional terhambat biaya tinggi, Jawa Barat harus menjadi destinasi utama yang aman dan terjangkau bagi warga kita sendiri. Inilah saatnya memperkuat narasi Bangga Berwisata di Indonesia,” kata Daniel dalam keterangan persnya yang diterima Kliknusae.com, Kamis 12 Maret 2026.
Selain itu, ASITA Jawa Barat juga mengimbau para pelaku biro perjalanan untuk melakukan efisiensi.
Sekaligus inovasi dalam penyusunan paket wisata. Salah satu pendekatan yang dinilai relevan adalah pengembangan paket wisata yang lebih ringkas dan berbasis perjalanan darat.
“Saya menghimbau seluruh anggota ASITA untuk mulai menyusun paket wisata yang lebih compact dan berbasis darat atau tren overland," pintanya.
"Ini penting untuk meminimalisir ketergantungan pada komponen biaya tiket pesawat yang sangat fluktuatif,” lanjut Daniel.
Di sisi lain, ASITA juga mendorong pemerintah untuk memperhatikan stabilitas biaya transportasi udara. Terutama terkait harga bahan bakar pesawat atau avtur yang sangat sensitif terhadap gejolak harga minyak dunia.
Pemberian Insentif
“Kami mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan pemberian insentif atau stabilisasi harga avtur domestik. Hal ini guna menjaga agar konektivitas antar-pulau tidak terputus akibat lonjakan harga minyak dunia,” kata Daniel.Strategi lain yang diusulkan adalah melakukan diversifikasi pasar wisatawan mancanegara.
Menurut Daniel, promosi pariwisata perlu diarahkan ke negara-negara yang tidak bergantung pada jalur transit Timur Tengah.
“Kita perlu mengalihkan fokus promosi ke pasar yang tidak melewati jalur konflik Timur Tengah. Seperti penguatan pasar Australia, India, dan sesama negara ASEAN,” ujarnya.
Meski situasi global sedang diliputi ketidakpastian, Daniel meyakini sektor pariwisata Indonesia memiliki daya tahan yang cukup kuat.
Ia mengingatkan bahwa industri ini telah melewati berbagai krisis besar dalam beberapa tahun terakhir.
“Pariwisata Indonesia telah teruji melalui berbagai krisis. Mulai dari pandemi hingga bencana alam," tandasnya.
Oleh sebab itu, pihaknya menyakini dengan sinergi antara pelaku industri dan kebijakan pemerintah yang tepat sasaran, pariwisata Jawa Barat akan tetap tegak berdiri sebagai pilar ekonomi rakyat.
Ia pun mengajak seluruh pelaku industri pariwisata untuk tetap tenang, kreatif, dan adaptif dalam menghadapi dinamika global yang terus berubah.
“Yang terpenting sekarang adalah tetap tenang, tetap kreatif, dan menjaga momentum pemulihan pariwisata dengan strategi yang adaptif,” ujarnya. ***

Daniel Guna Nugraha, Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA ) Jawa Barat. (Foto: Ist)